Di Oepoli, desa kecil nan tenang di Amfoang Timur, perbatasan Indoneseia Timor Leste aku sering termenung. Ahh, entah apa yang terlintas dalam pikiranKu, teringat tiga sosok manusia yang lucu, imut, ceria dan penuh canda tawa jika kita kumpul bersama. Apakah mereka baik-baik saja? gumamku pelan, sambil menatap langit senja yang memerah. Kita berempat udah kayak keluarga dari SD, segala kenangan indah bercampur aduk. Sekarang, jarak memisahkan kita. Sekolah di sini memang pilihan yang tepat, tapi. “Rasanya ada yang kosong banget,” bisikku lirih.
Kadang aku cemas, “Apa mereka udah punya teman baru? Apa mereka udah lupa sama aku?” Pikiran-pikiran itu bikin hatiku nggak tenang. Tapi, aku masih ingat jelas saat mereka bertiga datang sebelum aku pergi. “Kami akan selalu menunggu kabarmu, Chika,” kata Si Laki Imut itu. “Jangan sedih, ya,” tambahNya. “Kita selalu ada untukmu,” ucap Si Gadis imut sambil memelukku. Kata-kata mereka itu selalu terngiang-ngiang dalam pikiranku.
Aku tidak sabar menunggu lulus SMA nanti. “Kita bakal berkumpul dan bercerita bersama ” teriakku dalam hati. Bayangan kita masak bareng, ketawa-ketawa, naik motor keliling bersama sembari tawa ria mengelilingi kota Karang. Kenangan indah itu selalu menghangatkan hatiku.
Persahabatan kita, yang sudah terjalin dari berbagi makanan sampai curhat sampai pagi, pasti tidak akan mudah luntur. Kita sudah terlalu dekat, sudah kayak keluarga sendiri. “Tidak mungkin kita bisa melupakan satu sama lain,” batinku yakin.
Fajar, Radja, Juwita, kalian adalah sahabatKu yang baik. Aku berharap kalian sehat-sehat selalu ya. Aku kangen banget! Jangan lupa sama aku, ya. Dan jangan sampai ada yang ngegantiin posisi aku! SabatMu dari Perbatasan, Cika.
