Sebelum Kau

Sebuah Cerpen Oleh : Jules I.Banoet, S.Pd

Masih ingin ku gendong dirimu, ingin ku papah dirimu di bahu ini. Berlari mengitari pasir pantai dan buih ombak, Kau buah hatiku. Kita saling berkejaran, berlari sambil terkekeh pada lumuran pasir yang menempel antara jemari kaki. Hanya kita berdua nak.

Dan ibu mu kan tersenyum dari kejauhan, melihat betapa asik nya permainan kita. Dengan topi bundarnya yang berwarna hitam. Sesekali kita menunjuk ke arahnya, mengajak bermain bersama. Yang lantas hanya terbayarkan senyum. Dengan lesung pipi seperti milikmu. Dia sedang menyiapkan makan siang, di bawah lopo satu tiang penyanggah, beratapkan lontar ciri khas pantai. Sekali waktu dia menyeka rambutnya, yang diselipkan ke telinga sambil terus menyusun rantang bekal kita. Ibumu sangat cantik, seperti dirimu nak.

Masih ingin ku gendong dirimu, memapah mu di pundak ku. Kita kan berlari menerjang ombak-ombak kecil, percikan-percikan buih ombak dan pasir tergambar jelas dalam ingatan. Lalu terdengar suara ibu mu,..

Rambuuuuu, dengan Bapak mari sudah” panggilnya setengah berteriak..

“Makan dulu, nanti baru lanjut lagi iyaaaa”.… Tangan kanannya terangkat mengahalau sinar matahari, disertai tangan kiri yang bertengger pada pinggangnya menunjukkan gaya andalannya.

 

Masih ingin ku gendong dirimu, berlari ke arah ibu. Tapi kau ingin kita berlomba, berkejaran menuju ibumu yang sudah menunggu dengan kedua tangannya yang terbuka. Bersiap hendak memeluk pemenang.

Dan semuanya memudar perlahan ibu mu menghilang. Jejak-jejak kaki mungil mu pun hilang. Satu per satu, hingga akhirnya kau pun tiada. Seolah terhapus sedikit demi sedikit.

Seiring deru nafas dan jantungku mulai tidak beraturan, ombak semakin deras bergulung, angin kencang seperti hendak badai, aku mulai mencari. Memutar badan kesana kemari, berjalan tak tentu arah, sembari memanggil…

“Rambu,.. Rambu,…. Rambuuuuu”…

Aku terus memanggil tanpa henti. Bisa kau bayangkan betapa paniknya diriku saat itu.

Awan semakin gelap, burung-burung walet berkicau begitu nyaring, daun-daun kering berhamburan terhempas angin sebagian menempel di karang dan terhempas lagi ke udara semakin tinggi.

Badai telah sampai, petir menyambar ke arah pepohonan. Kilatan cahayanya tiada henti. Dengungannya begitu panjang terdengar. Aku masih kebingungan mencari. Tubuhku mulai berkeringat, menyatu bersama rintik-rintik hujan.

Aku terus berteriak,..

Rambu..Rambuuu“…..Masih tanpa jawaban.

Ku arahkan pandangan ke belakang, barisan lopo sudah terbakar. Apinya menyala begitu dahsyat. Dengan latar gumpalan awan hitam, bunga-bunga api yang bertebaran nampak begitu jelas. Aku semakin ketakutan. Teringat ibu mu, aku berlari ke arah lopo. Semakin dekat, semakin terasa panas menikam kulit. Keringat mulai bercucuran, mengalir seperti baru selesai mandi.

Dengan lengan yang terangkat menghalangi panas di wajah.

Aku bergerak mendekat, kian mendekat. Terdengar suara dari samping,

Bangun siap sudah, tidak na biar saya naik bemo saja”

Tersadar ku..

Hmmm..hanya mimpi“… gumamku dalam keadaan setengah sadar dari keadaan kantuk.

Tapi keringat ini begitu nyata, dan suara itu juga suara ibu mu. Cantiknya masih sama, namun baik nya hilang, tertinggal galak nya saja..

Masih ingin dan akan ku gendong dirimu, nanti ketika kita bersama nak..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *